Komunitas pencinta buku global, 1000 Libraries, merilis daftar perpustakaan dengan visual paling memukau di dunia.
KOMUNITAS global pecinta buku bernama 1000 Libraries melansir hasil survei terhadap perpustakaan yang terindah di seluruh dunia. Penghargaan tersebut didedikasikan untuk mengapresiasi ruang-ruang literasi dengan visual paling memukau di seluruh dunia
Survei ini melibatkan 200.000 pembaca selama dua bulan. Pada 6 Agustus 2025, 1000 Libraries kemudian merilis perpustakaan yang bukan sekadar tempat untuk membaca atau meminjam buku.
Dari daftar tersebut, inilah lima perpustakaan yang menduduki peringkat teratas sebagai yang terindah di dunia pada tahun ini menurut 1000 Libraries seperti dikutip dari CNA Lifestyle:
Gelar perpustakaan terindah di dunia untuk 2025 dianugerahkan kepada Perpustakaan Trinity College Dublin. Dengan atmosfer akademisnya yang megah, perpustakaan yang berlokasi di Irlandia ini sering kali disamakan dengan perpustakaan sihir dalam seri Harry Potter.
Statusnya sebagai perpustakaan terbesar di Irlandia selaras dengan kekayaan koleksinya yang mencakup ribuan manuskrip langka dan berharga. Seperti dilansir dari laman resmi Trinity College Dublin, sejarah perpustakaan ini telah terjalin sejak kampusnya dibangun pada 1592.
Perpustakaan ini menyimpan lebih dari enam juta volume cetak, beserta koleksi jurnal, manuskrip, peta, dan musik yang merefleksikan perkembangan akademik selama lebih dari 400 tahun. Di antara koleksi manuskripnya yang paling termasyhur adalah Book of Kells dan Book of Durrow. Keduanya merupakan persembahan dari Henry Jones, seorang Uskup Meath sekaligus mantan wakil rektor universitas pada era 1660-an. Selain itu, terdapat pula koleksi istimewa lainnya seperti Koleksi Ussher yang diperoleh pada tahun 1661 dan Koleksi Fagel pada tahun 1802.
1000 Libraries menggambarkan State Library of South Australia sebagai sebuah perpustakaan yang menghadirkan perpaduan unik antara fungsi historis dan pesona arsitektur. Sebagai pusat dokumentasi yang telah berusia 189 tahun, perpustakaan ini menyimpan koleksi lengkap sejarah Australia Selatan dari masa prakolonial.
Namun, daya tarik utamanya terletak pada Mortlock Chamber, salah satu sayapnya yang ikonik. Di lantai dasar Chamber, terdapat beberapa ruang pameran yang didedikasikan untuk menampilkan kekayaan koleksi State Library. Pameran ini menampilkan hampir 1.000 koleksi dengan tema yang menyoroti berbagai aspek relevan mengenai Australia Selatan. Didirikan pada tahun 1884, keindahan ruangan ini membuatnya menjadi lokasi favorit untuk acara-acara formal seperti jamuan makan malam, resepsi pernikahan, dan pesta koktail.
Dikutip dari laman resminya, keunikan sejarah mereka adalah gagasan perpustakaan umum yang telah ada bahkan sebelum koloni itu sendiri resmi berdiri. Inisiatif ini berawal dari South Australian Literary Association yang dibentuk pada tahun 1834 dengan tujuan “menyebarkan pengetahuan yang bermanfaat di seluruh koloni”.
Para anggota pendirinya membawa koleksi buku pertama dari Inggris menggunakan kapal Tam O’Shanter. Disimpan dalam sebuah peti besi bersama naskah konstitusi, koleksi ini tiba pada Desember 1836 dan menjadi fondasi perpustakaan. Kini, warisan dari koleksi awal tersebut dikenal sebagai Koleksi Gouger dan sebagian dipamerkan di Mortlock Wing.
Menempati peringkat ketiga, Abbey Library of St. Gallen merupakan salah satu perpustakaan biara tertua dan terpenting di dunia. Menurut 1000 Libraries, perpustakaan ini memiliki jejak sejarah panjang yang dimulai sejak didirikan oleh seorang biarawan Irlandia pada 612. Daya tarik visual utamanya adalah lukisan-lukisan fresko sureal yang menghiasi seluruh langit-langit. Keindahan ini melengkapi koleksi berharganya yang mencakup naskah-naskah kuno hingga sebuah replika globe dari abad ke-16.
Dikutip dari laman Switzerland Tourism, perpustakaan ini dijuluki Seelenapotheke (bahasa Jerman untuk ‘penyembuh jiwa’) karena atmosfernya yang unik. Aula utamanya yang megah dengan gaya Barok tidak hanya menyimpan 2.100 manuskrip kuno, tetapi juga menyimpan sebuah mumi Mesir berusia 2.700 tahun bernama Shepenese.
Berlokasi di dalam Perpustakaan Bodleian Universitas Oxford, perpustakaan ini merupakan salah satu ruang baca tertua di Eropa yang hingga kini masih aktif digunakan. Menurut Oxford Visit, perpustakaan ini didirikan pada abad ke-15 oleh Duke Humphrey of Gloucester.
Alih-alih menampilkan kemegahan lewat ornamen yang rumit, keistimewaan perpustakaan ini justru muncul dari suasananya yang sederhana dan tenang. Atmosfer yang dirancang untuk fokus belajar ini tercipta dari perpaduan balok kayu gelap, rak-rak buku dari kayu ek tua, lorong-lorong sempit, serta jajaran buku dan manuskrip langka yang telah berusia ratusan tahun.
Ketenaran perpustakaan ini di kancah internasional meroket setelah menjadi lokasi syuting perpustakaan Hogwarts dalam seri film Harry Potter.
Bagi para penggemar film animasi Beauty and the Beast, perpustakaan ini mungkin akan terasa familier. Kemegahan arsitekturnya memang menjadi inspirasi utama bagi desain perpustakaan ikonik dalam film tersebut.
Menurut Parametric Architecture, Admont Abbey Library dirancang oleh Josef Hueber dan rampung dibangun pada tahun 1776. Aula utamanya yang megah didominasi oleh tujuh kubah dengan lukisan fresko karya Bartolomeo Altomonte yang menggambarkan tahapan pengetahuan manusia. Interiornya menggunakan palet warna putih dan emas yang cerah, serta dilengkapi patung The Four Last Things dan pintu-pintu rahasia yang tersembunyi di rak buku.
Koleksinya mencakup lebih dari 1.400 manuskrip abad pertengahan dan 900 buku cetak awal (incunabula). Penataan buku-buku ini pun selaras dengan narasi arsitekturnya. Karya teologis ditempatkan di bawah kubah utama yang bertema wahyu ilahi, sementara sayap lainnya diisi literatur ilmu pengetahuan. Berkat perpaduan elemennya yang unik, perpustakaan yang dijuluki ‘Keajaiban Dunia Kedelapan’ ini diakui secara luas sebagai mahakarya arsitektur yang sarat akan konsep Pencerahan.
Tinggalkan Komentar